Ihdinas Siratal Mustaqim

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [QS 17:36]

Kalimat tersebut diucapkan oleh ummat Islam (yang melaksanakan ibadah sembahyang) minimal 17 (tujuh belas) kali dalam sehari semalam. Terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut : "TUNJUKILAH KAMI JALAN YANG LURUS" (Depag). Ada Kiai yang menterjemahkannya dengan "Tunjukilah kami tuntunan yang kukuh". Yang lainnya ada yang menterjemahkannya dengan "Tunjukilah kami jalan yang nyaris tegak lurus". Mana yang paling benar, tergantung pemahaman kita masing-masing. Namun dari ketiga macam terjemahan tersebut ada persamaannya yakni "Tunjukilah kami", artinya semuanya meminta / memohon petunjuk dari Allah.

Setiap hari ummat Islam yang berjumlah kurang lebih satu milyard orang diseluruh dunia meminta do'a kepada Allah untuk diberi petunjuk. Itu berarti minimal 17 milyard do'a yang sama "IHDINAS SIRATAL MUSTAQIM" setiap harinya dipanjatkan kepada Allah. Apakah do'a tersebut sudah dikabulkan Allah atau belum ? (kalau belum ya kelewatan). Pastilah, Allah yang Rahman dan Rahim, mengabulkan setiap permohonan hamba-Nya tersebut Langsung setelah permohonan itu dipanjatkan, Allah menjawab permohonan hamba-hambanya itu pada Surah Al-Baqarah (2) : 2 :
ذَالِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, [QS. 2:2]
 

Makna


Persoalannya, apakah kita mengerti bahwa Allah telah memberi kita petunjuk ??? Didepan kita terbentang lebar petunjuk tersebut (Al-Qur'an). Tetapi pernahkah kita membacanya ? Dan sudah mengertikah kita apa dan bagaimana makna dari petunjuk tersebut ? 

Pada umumnya hampir semua orang-orang yang mengaku beriman pernah membacanya, tetapi yang membaca dan mengerti / tahu artinya sangat sangat sedikit. Dan yang sadar bahwa itulah (Al-Qur'an) petunjuk yang dimintanya dari Allah lebih sedikit lagi. Itulah sebabnya, mereka masih saja terus menerus berdo'a sepanjang hayatnya meminta petunjuk, tanpa sadar bahwa permintaannya itu sudah dipenuhi sejak lama oleh Allah dan sudah terbentang lebar dihadapannya tanpa disentuh sedikitpun.

Ibu saya saja pasti akan marah bila saya terus menerus meminta baju baru, tetapi setelah dibelikan baju, baju tersebut tidak pernah dipakai dan ditumpuk saja dilemari, sampai kemudian baju tersebut menjadi kekecilan atau rusak dan tidak dapat dipakai lagi. Saya yakin, Allah pun akan jengkel dan grundel kepada hambanya yang pekerjaannya "minta melulu", tetapi setelah diberi apa yang dimintanya, tidak dipakai / digunakan (karena ketidak tahuan).

Jawaban Allah terhadap permohonan hambanya (IHDINAS-SIRATAL MUSTAQIM), lebih tegas lagi dijawab pada Surah Al-An'am :

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa ini (Al-Qur’an) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. [QS. 6:153]
 
Ayat tersebut diatas jelas sekali menunjuk Al-Qur'an sebagai jalan yang lurus (jalan yang kita mohon setiap hari). Kemudian Allah memerintahkan kita untuk mengikuti jalan tersebut dan melarang kita untuk mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan lain (selain Al-Qur'an) akan menjauhkan kita dari jalan-NYA. Dan perintah untuk mengikuti Al-Qur'an saja di WASIATKAN Allah kepada kita (manusia) agar kita bertaqwa .

Pelaksanaan


Persolannya sekarang, bagaimana menggunakan dan mengamalkan petunjuk tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Pertama-tama tentunya adalah, mempelajari petunjuk (Al-Qur'an) tersebut.
Al-Qomar (54) : 17 - 22 - 32 dan 40 

  وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?. [QS. 54:17]
 
Keempat ayat dalam satu Suroh tersebut mengajarkan kepada kita bahwa Al-Qur'an itu telah dimudahkan untuk dipelajari. Ini berarti tidak sepantasnya dipermudah lagi, sebab mempermudah yang sudah mudah akibatnya akan mempersulit.

Pada umumnya kita mendengar fatwa para pakar, bahwa untuk mempelajari Al-Qur'an itu tidaklah mudah. Seseorang yang ingin mempelajari Al-Qur'an haruslah menguasai persyaratan-persyaratan tertentu yang cukup berat, antara lain Ilmu Nahu Shorof (tata bahasa Arab), Balaghoh (sastera Arab), 'Ulum al-Hadits (ilmu-ilmu Hadits), Asbab an-Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), Aqwal al-'Ulama (fatwa-fatwa ulama) dan lain-lainnya. Mendengar persyaratan yang begitu banyak saya yakin 99,.. % dari ummat Islam yang semula berniat mempelajari Al-Qur'an pasti mengurungkan niatnya. 

Banyaknya persyaratan tersebut disadari atau tidak telah menumbuhkan sikap pessimistik bagi sebagian besar ummat Islam untuk dapat memahami isi-kandungan Al-Qur'an yang konon katanya menjadi KITAB SUCI dan pedoman hidup kita.

Kita meyakini, bahwa fatwa tersebut lahir dengan dilandasi i'tikat luhur dan niat yang baik demi mempermudah dan kehati-hatian. Tetapi kita juga menyadari bahwa tidak sedikit niat yang baik, bisa berakibat buruk, seperti yang diiingatkan oleh Allah dalam :
Al-Isra (17) : 11
وَيَدْعُ الإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإِنسَانُ عَجُولاً
Dan manusia menyeru dengan yang buruk pada seruannya tentang yang baik. Dan adalah manusia itu sangat terburu-buru. [QS. 17:11]

Modal dasar mempelajari Al-Qur'an


Untuk mempelajari Al-Qur'an, Al-Qur'an menawarkan modal dasar sebagai berikut
1. Al-Mujadilah (58) : 12 : 13
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ذَلِكَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَأَطْهَرُ فَإِن لَّمْ تَجِدُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Hai siapapun yang mengaku beriman ! Jika kamu saling memperbincangkan risalah (ar-rasul), maka utamakanlah "Kejujuran" sebelum perbincanganmu ! Itulah yang terbaik dan lebih suci untukmu. Jika kamu tidak mendapatinya, sungguh Allah Maha mengampuni Maha Menyayangi. [QS. 58:12]

 أَأَشْفَقْتُمْ أَن تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Khawatirkah kamu mengedepankan kejujuran-kejujuran sebelum perbincangan-mu ? Bila kamu tidak berbuat, padahal Allah menerima taubatmu, maka tegakkanlah Ash-Sholah, dan datangkan az-zakah dan taatilah Allah beserta rasul-Nya ! Allah memberi khabar dengan apa yang kamu lakukan.[QS. 58:13]
2. Yunus (10) : 9
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Sungguh mereka yang telah "Meng-imani" dan "Ber-amal sholih", Tuhan akan memberi petunjuk dengan iman mereka. Dari bawah mereka akan mengalir sungai-sungai di sorga-sorga kenikmatan. [QS. 10:9]
3. Al-Kahf (18) :55

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَن يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلاً
Tiada yang menghalangi manusia untuk be-riman ketika petunjuk telah datang, serta memohon ampun kepada Tuhan mereka, kecuali datangnya "Sunnah Al-Awwalin" (tradisi lama / status qua) atau datangnya siksaan yang ditunda. [QS. 18:55]
 Dari ayat-ayat tersebut, kita memperoleh lima petunjuk sebagai modal dasar untuk mempelajari Al-Qur'an yaitu :
  1. Sikap Dewasa
  2. J u j u r
  3. Totalitas I m a n
  4. Tekad ber-amal sholih
  5. Siap berubah / berjiwa reformis.
Kelima sumber daya itu sebenarnya sudah ada direlung hati setiap manusia, dan tidak perlu membelinya lagi di pasar.
  1. SIKAP DEWASA dimaksudkan, bahwa orang yang berniat mempelajari Al-Qur'an itu, harus sudah dewasa dalam berfikir. Walaupun usia sudah tua, tetapi kalau cara berfikir masih seperti anak-anak yang belum bisa membedakan mana yang baik dan mana buruk, mana yang betul dan mana yang salah, maka tidak mungkin dia dapat mengambil manfaat / petunjuk dari Al-Qur'an.
  2. J U J U R adalah sifat yang mutlak harus dimiliki bila kita ingin mengambil manfaat dari Al-Qur'an. Bila kita mempelajari Al-Qur'an dengan niat yang tidak baik, misalnya karena kita ingin mencari pembenaran dari perbuatan kita, atau mencocok-cocokkannya dengan buku-buku lain yang sebelumnya telah kita yakini kebenarannya, maka tidak mungkin kita dapat memahami Al-Qur'an dengan baik dan benar. Jadi niat kita harus betul-betul jujur, jakni bahwa kita mempelajari Al-Qur'an itu karena yakin akan kebenarannya untuk mendapatkan petunjuk dari Allah.
  3. TOTALITAS IMAN dimaksudkan bahwa kita sangat sangat meyakini bahwa Al-Qur'an itu betul-betul datangnya dari Allah untuk memberikan petunjuk bagi seluruh manusia.
  4. TEKAD BERAMAL SHOLIH dimaksudkan adalah bahwa orang yang mempelajari Al-Qur'an itu mempunyai ni'at untuk beramal sholih dengan baik dan benar. Banyak sekali orang yang betul-betul ingin berbuat baik / ber-amal sholih, rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk mendapatkan pahala, tetapi karena pedomannya salah, maka perbuatan yang kelihatannya baik itu ternyata tidak betul (salah) dan tidak sesuai dengan kehendak / perintah Allah. Contoh : memotong / membunuh binatang darat pada bulan haram dengan niat untuk memberi makan orang miskin. Amalan ini kelihatannya sangat baik, malah dianjurkan oleh para Ahli kitab dan pemuka-pemuka agama, namun setelah dicocokkan dengan Al-Qur'an, ternyata itu melanggar perintah Allah. Harapan untuk mendapat pahala, sebaliknya dosa yang didapat.
  5. SIAP BERUBAH. Kemauan dan tekad untuk berubah. Bila dalam mempelajari Al-Qur'an, kita mendapati / menemukan sesuatu yang tidak sesuai / cocok dengan apa yang selama ini kita yakini kebenarannya, kita harus berani bersikap, mengikuti petunjuk Al-Qur'an dan meninggalkan apa yang selama ini kita anggap benar. Kita harus yakin bahwa hanya Al-Qur'an ini yang pasti benarnya, karena hanya dialah yang disebut Al-Haq (yang pasti).
Untuk memahami Al-Qur'an, kita tidak harus menguasai persyaratan yang neko-neko (macam-macam).Asalkan kita mau mendayagunakan potensi diri (seperti yang tersebut diatas) secara maksimal, kita pasti akan dapat memahami Al-Qur'an dengan baik dan benar. Tetapi jika kelima potensi diri tersebut tidak diberdayakan, jangan harap seseorang bisa memahami Al-Qur'an dengan baik dan benar walaupun dia memiliki pengetahuan segudang.

Hambatan yang paling utama, mengapa banyak orang yang gagal untuk memahami penerimaan Al-Qur'an saja (Al-Qur'an an-sich) dijelaskan Allah dalam Suroh Al-Isra' (17) : 45 dan 46 yang memberi informasi, bahwa mereka yang menolak meng-imani Allah dan menolak untuk berpegang pada kitab-Nya semata, adalah tersekat sekaligus terisolir dari Al-Qur'an.

 وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ حِجَاباً مَّسْتُوراً
Dan bila kamu telah meng-IQRO' Al-Qur'an Kami buatkan diantara kamu dan mereka yang tidak beriman dengan yang akhir HIJABAN MASTURO ( =sekat yang rapat) [QS. 17:45]

 وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً
 
Dan Kami jadikan atas QOLBU mereka AKINNAH ( = tutupan) untuk memahami Dan dalam AADZAN ( = pendengaran) mereka WAQRO' ( = sumbatan) Dan jika kamu DZIKIR-kan ( = sebut / ingat) Robb-mu dalam AL-QUR'ANI WAHDA ( = Al-Qur'an an sich / Al-Qur'an semata ) mereka akan berbalik kebelakang sambil lari. [QS. 17:46]
 
Sekarang, pertanyaannya mungkinkah kita mempelajari Al-Qur'an tanpa guru ? Jawabnya mungkin saja. Persyaratan minimal tentunya adalah pintar baca tulis. Akan lebih baik, bila kita memiliki lebih dari satu Al-Qur'an yang dilengkapi terjemahannya, sehingga bila kita mendapati ada ketidak cocokan dalam terjemahan yang satu, kita dapat membandingkannya dengan terjemahan lainnya. Dan sebagai manusia, tentunya kita memiliki banyak teman. Bila sudah buntu dan bingung ada baiknya kita bertanya kepada teman yang lebih mengerti

Pedoman utamanya adalah berdayakan otak kita semaksimal mungkin. Gunakan logika, karena semua yang ada dalam Al-Qur'an itu adalah logis (masuk akal). Selanjutnya, bila kita memang beriman dan yakin akan kebenaran Al-Qur'an itu dengan dilandasi keinginan untuk mendapatkan petunjuk Allah, maka yakinlah, Allah pasti akan membantu kita.

Al-Qur'an menyatakan dengan jelas bahwa Allah lah yang akan mengajarkan (meng-ilmukan) Al-Qur'an. Jadi guru / uztads / dosen kita yang paling bisa diandalkan, dalam mempelajari Al-Qur'an adalah Allah sendiri.

Ar - Rahman (55) : 1 dan 2
Ar - Rahman
الرَّحْمَن
Yang mengilmukan Al-Qur'an.
عَلَّمَ الْقُرْآن

Demikian pula penjelasannya. Penjelasan (Bayaan) yang pertama diturunkan bersama dengan Al-Qur'an (Azz Dzikr). Adapun penjelasan yang merupakan penjelasan turunan / sekunder adalah penjelasan yang harus dipikirkan. Penjelasan sekunder tersebut boleh berasal dari Nabi, Para Ulama, Ahli Kitab, dan siapa saja yang mampu memberikan penjelasan. 

Namun harus dicermati serta difikirkan dan ditimbang dengan akal dan logika kita apakah sesuai dengan penjelasan yang pertama (yang datangnya dari Allah). Adapun penjelasan yang tidak merujuk pada penjelasan yang pertama sebaiknya diabaikan. Contoh : Penjelasan yang dari Allah (yang pertama), dijelaskan oleh Nabi, Uztads dll (yang kedua). Kemudian bila ada penjelasan lagi yang mengulas penjelasan kedua (yang dari Nabi, Uztads dll), hendaknya kita harus super hati-hati dalam menanggapi dan memikirkannya, atau kalau perlu abaikan saja. Apalagi penjelasan dari penjelasan dari penjelasan dari penjelasan dari penjelasan yang sudah beranak pinak.

Makin banyak penjelasan, kadang-kadang tidak menjadikannya makin jelas, tetapi mungkin saja makin melenceng jauh dari maksud Allah (penjelasan pertama). Karena itu kembalilah selalu pada penjelasan pertama (yang dari Allah), dan jadikan tolok ukur untuk menguji penjelasan kedua tersebut. Perlu diingat bahwa Nabi saja tidak selalu benar dalam memberikan penjelasan (lihat 80 : 1 - 11 dan 20 : 83). Karena itu penjelasan yang kedua harus DIFIKIRKAN. Yang tidak pernah salah hanyalah Rasul.
Berikut ini penjelasan dari Al-Qur'an.
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ
janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya [QS. 75:16]
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. [QS. 75:17]
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
apabila Kami telah selesai membacakan-nya Maka ikutilah bacaannya itu. [QS. 75:18]
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.[QS. 75:19]

Penjelasan Al-Qur'an tentang penjelasan yang kedua sebagai berikut :

 بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Tentang BAYYINAT ( = penjelasan ) dan ZUBUURI ( = sumbernya ), Dan Kami telah turunkan kepadamu ADZ - DZIKRO ( = peringatan ), agar engkau TUBAYYUN ( = menerangkan ) pada NAAS apa yang telah diturunkan pada mereka. Dan agar kereka MEMIKIRKAN. [QS. 16:44]
Demikian sekelumit tentang "Petunjuk" yang setiap hari di mohon / diminta oleh orang Islam yang melasanakan "Ritual Sembahyang".
Semoga bermanfaat .

sumber: kajianalquran

0 Response to "Ihdinas Siratal Mustaqim"