Ide, Inspirasi dan Nasihat

Menggali Sebuah Pengalaman

Sabtu, 11 Juli 2015

Inilah Tanda-Tanda Kiamat yang Telah Terjadi


Kiamat, tidak ada yang tahu kapan terjadinya secara pasti. Namun, Al Qur’an dan hadits memuat banyak tanda-tandanya. Mulai tanda-tanda sughra hingga tanda-tanda kubra. Syaikh Mahir Ahmad Ash Shufi menambahkan satu kategori lagi; tanda-tanda wustha.
Sebagian tanda (terutama sughra dan wustha) telah terjadi. Sedangkan sebagian lainnya masih belum terjadi.
Berikut ini 33 tanda kiamat yang telah terjadi sebagaimana dijelaskan Syaikh Mahir Ahmad Ash Shufi dalam Ensiklopedi Kiamat :

TANDA-TANDA SUGHRA
1. Diutusnya Rasulullah
2. Terbelahnya bulan
3. Wafatnya Rasulullah
4. Penaklukan Baitul Maqdis
5. Mewabahnya penyakit mematikan
6. Terbunuhnya Umar bin Khattab
7. Terbunuhnya Utsman bin Affan
8. Tragedi Perang Jamal
9. Tragedi Perang Shiffin
10. Fitnah Khawarij dan Perang Nahrawan
11. Penyerahan kekuasaan dari Al Hasan kepada Muawiyah
12. Fitnah Tatar
13. Munculnya Nabi-Nabi Palsu
14. Penaklukan Madain
15. Situasi jalan Irak – Makkah aman
16. Harta melimpah ruah
17. Terhapusnya jizyah dan pajak
18. Api yang keluar dari Hijaz
19. Bencana Al Khasaf, Al Qadzaf dan Al Maskh
20. Kekaisaran Persi dan Romawi runtuh
21. Sampainya agama sebagaimana sampainya malam dan siang

TANDA-TANDA WUSTHA
22. Datangnya berbagai fitnah
23. Meluasnya perdagangan
24. Budak wanita melahirkan tuannya
25. Konspirasi bangsa-bangsa terhadap umat Islam
26. Wanita yang berpakaian tapi telanjang
27. Menghiasi masjid berlebih-lebihan
28. Memakan harta riba
29. Menyia-nyiakan amanat
30. Merebaknya khamr dan zina
31. Pasar-pasar berdekatan
32. Banyaknya kebohongan dan kesaksian palsu
33. Orang tua menyemir rambut dan bergaya muda
Demikian 33 tanda kiamat yang telah terjadi. Disebut tanda-tanda sughra bukan berarti perkara kecil tetapi karena masih jauh dari waktu kiamat dibandingkan tanda-tanda kubra. [Ibnu K/Tarbiyah]

Kamis, 09 Juli 2015

[Penjelasan Ilmiah] Batu Akik Bergambar Ka’bah dari Sulawesi Tengah?

Baru-baru ini, kita dihebohkan oleh penemuan akik (jenis King Marantale), yang bercorak gambar ka’bah, yang dikelilingi orang-orang bertawaf.

Batu akik yang ditemukan di Parigi Moutong (Sulawesi Tengah), pada jum’at 26 Juni 2015 (9 Ramadhan 1436 H), sempat membuat histeris warga, ada yang menangis sambil mengucap Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar (Sumber : liputan6.com).

akik1

 Penjelasan Ilmiah Pembentukan Image Batu Akik

Terukirnya corak gambar pada bebatuan akik, secara ilmiah bisa dijelaskan sebagai berikut.
Berawal dari aktifitas magma panas di dalam perut bumi, yang naik ke atas permukaan dengan melewati celah-celah batuan dan lapisan tanah.
Makin naik, maka semakin turun panasnya dan kemudian membeku sehingga membentuk batuan kristal (Sumber : djurnal.com).
akik3
Ketika cairan superpanas ini mulai naik, cairan ini akan melarutkan berbagai batuan lain (fosil kayu dan sebagainya) yang telah ada, sehingga terjadilah proses pelarutan atau ubahan hidrotermal (Sumber : kompas.com).
Proses hidrotermal yang berlangsung selama jutaan tahun inilah, menjadi penyebab terbentuknya corak gambar pada bebatuan akik.

Hal ini bermakna. corak gambar yang terdapat pada akik, adalah peristiwa ilmiah yang biasa.

Akan tetapi, harus diakui merupakan satu karunia ALLAH, ketika proses alamiah ini, bisa berbentuk corak jemaah yang sedang tawaf disekeliling ka’bah.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Rabu, 08 Juli 2015

Membandingkan Perilaku Ayam & Babi, Sebuah Jawaban Telak Kenapa Babi Diharamkan


Membandingkan Perilaku Ayam & Babi, Sebuah Jawaban Telak Kenapa Babi Diharamkan
Babi adalah binatang yang bagi agama Islam diharamkan untuk memakannya. Bagi umat Islam diharamkan memakan daging babi, bangkai, darah dan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah karena hal itu tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an.

Tentunya ada yang bertanya-tanya, mengapa babi diharamkan? Bukankah semua ciptaan Allah itu baik dan ada manfaatnya? Lagipula daging babi rasanya sangat lezat, bahkan ada yang mengatakan daging babi adalah daging paling lezat. Biasanya jawabannya adalah seputar kesehatan. Babi adalah binatang kotor yang pola hidupnya juga kotor, dan hampir semua orang sudah tahu tentang hal itu.

Jawaban-jawaban tentang bahaya kesehatan yang ditimbulkan ketika makan daging babi tentu masih bisa membuat ragu bagi sebagian orang, terlebih dizaman modern dimana proses sterilisasi bisa dilakukan dengan mesin canggih. Hingga ada sebuah dialog yang mempertanyakan hal tersebut.

Seorang pria non muslim asal Prancis yang juga penikmat babi bertanya kepada seorang ulama:

“Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan kotoran dan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya? Ditambah lagi dimasak dengan suhu tinggi sehingga bila masih terdapat cacing pada daging babi dipastikan bisa mati”.

Dalam menjawab pertanyaan yang diajukan orang Prancis ini, seorang ulama dari Arab menjawabnya dengan meminta agar si penanya menyediakan:

3 ekor ayam terdiri dari 2 jantan dan 1 betina
3 ekor babi terdiri dari 2 jantan dan 1 betina

Lalu kemudian, 3 ekor ayam itu dimasukkan dalam 1 ruang kandang. Coba tebak apa yang terjadi? Ayam jantan dan ayam jantan lainnya saling berkelahi dengan jantan memperebutkan si betina untuk dikawini, ayam jantan yang keluar sebagai pemenang berhak mengawini si betina.

Hal semacam itu sering juga kita lihat di kampung-kampung yang penduduknya memelihara ayam. Sering didapati ayam jantan berusaha saling adu kekuatan untuk memperebutkan betina untuk dikawini.

Lalu sang ustadz juga meminta agar 3 ekor babi yang sudah disediakan agar dimasukkan dalam 1 ruang kandang. Dan apakah yang terjadi? Kedua pejantan babi itu malah saling bantu dalam menyetubuhi 1 babi betina, kedua jantan itu saling bantu satu sama lain. Bahkan terkadang, jsantan sesama jantan bersetubuh melalui anusnya. Dan yang lebih mengherankan lagi, ternyata anak babi yang sudah berumur cukup dewasa itu menyetubuhi betina yang ternyata ialah ibu kandungnya sendiri.

Dari sini, ustadz itu menjelaskan bahwa meski babi dianggap steril, tetap saja kelakuannya itu yang akan membawa dampak buruk pada si pemakan.

Sang ustadz mengatakan: “Karena itulah kalian pemakan daging babi sangat mudah terjangkiti penyakit seks bebas, anak dibawa orang lain tak dikenal, istri dipeluk cium orang lain tapi tidak marah, selingkuh asal suka sama suka sudah merupakan hal biasa, tak jarang diantara kalian melegalkan pernikahan sesama jenis, ini sudah seperti tingkah kaum nabi Luth yang di azab!”.

Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.

Sehingga bagi umat Islam, manusia sebagai makhluk paling sempurna tentu sangat merasa terhina jika harus memakan daging binatang yang kotor jasad dan prilakunya.

Dari segi ilmiah pun diperoleh kenyataan bahwa babi tetap saja tidak steril karena penyakit babi terdapat pada DNA-nya hingga sebersih apapun perawatan dan kandangnya maka tetap saja penyakit babi tetap ada dan tak dapat dihilangkan.

Satu lagi yang perlu diperhatikan bahwa DNA babi sangat mirip sekali dengan DNA manusia. Bahkan seorang penjahat kanibal di Jerman yang tertangkap kemudian ditanya: “Seperti apa rasanya daging manusia? Dia menjawab: Seperti daging babi”.

Hal lain yang perlu diketahui juga bahwa cacing-cacing bahkan telurnya saja tidak akan mati meski daging babi dimasak dengan suhu 100 derajat celcius. Cacing hanya akan mati jika dimasak dengan suhu yang jauh lebih tinggi, namun suhu yang terlalu tinggi akan merusak daging dan malah daging tersebutlah yang berbahaya bagi manusia meski cacing-cacingnya mati.

Dari bentuk anatomi tubuhnya pun sudah ada tanda bahwa hewan yang satu ini bukan untuk dikonsumsi. Babi tidak memiliki ruas leher sehingga membuktikan bahwa binatang ini bukan untuk disembelih seperti ikan.

Lalu buat apa babi diciptakan jika tidak untuk dimakan?

Maka jawabannya adalah: di dalam tubuh babi ada hal yang bisa kita petik pelajarannya dan kemudian kita hindari sebagaimana naluri kita selalu berkata untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari pengaruh virus flu atau bibit penyakit lainnya. Selain itu juga sebagai ujian iman bagi pemeluk agama yang mengharamkannya, apakah akan taat pada aturan tuhan atau malah melanggarnya. Wallahu A’lam Bish-Showab…

Nama dan Istilah Lain dari Babi yang Harus Anda Ketahui


Nama & Istilah Lain dari Babi yang Harus Anda Ketahui
Akhir-akhir ini kita menyaksikan pemandangan yang sangat memprihatinkan, yakni seorang wanita berjilbab sedang menyantap makanan yang bertuliskan Siomay ‘cu nyuk’. Foto yang diunggah dan menyebar di media sosial itu sontak menjadi perbincangan hangat. Bukankah cu nyuk artinya daging babi?

Besar kemungkinan, si pembeli tadi teledor dan tidak menanyakan terlebih dahulu kepada penjualnya. Di sisi lain, si penjual juga tidak berlaku jujur karena tidak memberi informasi yang sejelas-jelasnya tentang makanan yang mereka jajakan.

Selain itu, ada juga makanan ada juga makanan rasa kentang Pringles yang berlabel atau dikemas sedemikian rupa dengan kalimat “Ramadhan Mubarok”, tapi ternyata mengandung barang haram. 

“Hati-hati membeli makanan, perhatikan meskipun dikemas dengan kalimat Ramadan Mubarak.. apa rasa kentang Pringles ini dan apa artinya.. Apakah selama ini ada yang tidak teliti? Sebarkan, semoga bermanfaat…,” tulis akun FB, Hanny Kristianto pada Senin (29/6/2015).

Sesuatu yang harus menjadi perhatian serius dari seluruh umat Islam dalam makanan rasa kentang Pringles itu adalah tulisan “SMOKEY BACON Flavour” yang ada diluar kemasannya. Setelah ditelusuri, ternyata kata BACON itu adalah “Daging Babi yang Telah Digaramkan atau Diasapkan”.

Siomay Cu Nyuk
Wakil Direktur Bidang Auditing dan Sistem Jaminan Halal, Ir. Muti Arintawati dalam menanggapi hal ini menyatakan, di tengah ramainya barang-barang impor, dan seiring dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean, konsumen di Indonesia memang harus lebih kritis terhadap produk yang hendak mereka konsumsi.

Banyak istilah yang belum mereka pahami, sehingga sangat disarankan agar konsumen bertanya terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu yang kandungan bahannya belum mereka ketahui. “Ini untuk menghindari kejadian seperti ibu-ibu yang membeli siomay cu nyuk, beberapa waktu lalu,” ujarnya.

Sebagai contoh, banyak yang belum memahami bahwa label bertulis “This Product Contain Substance From Porcine”, artinya produk tersebut mengandung bahan dari babi. Begitu juga dengan istilah “The Source Of Gelatin Capsule Is Porcine”, yang artinya kapsul dari gelatin babi.

Berikut ini sejumlah nama dan istilah yang digunakan dalam produk yang mengandung atau menggunakan unsur babi, sebagaimana dirilis Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI);
  1. PIG: Istilah umum untuk seekor babi atau sebenarnya babi muda, berat kurang dari 50 kg.
  2. PORK: Istilah yang digunakan untuk daging babi di dalam masakan.
  3. SWINE: Istilah yang digunakan untuk keseluruhan kumpulan spesies babi.
  4. HOG: Istilah untuk babi dewasa, berat melebihi 50 kg.
  5. BOAR: Babi liar / celeng / babi hutan.
  6. LARD: Lemak babi yang digunakan untuk membuat minyak masak dan sabun.
  7. BACON: Daging hewan yang disalai, termasuk / terutama babi.
  8. HAM: Daging pada bagian paha babi.
  9. SOW: Istilah untuk babi betina dewasa (jarang digunakan)
  10. SOW MILK: susu babi.
  11. PORCINE: Istilah yang digunakan untuk sesuatu yang berkaitan atau berasal dari babi. Porcine sering digunakan di dalam bidang pengobatan/ medis untuk menyatakan sumber yang berasal dari babi.
Di tengah-tengah masyarakat juga dikenal dengan istilah-istilah lain yang merujuk pada babi, misalnya charsiu, cu nyuk, mu, chasu, yakibuta, nibuta, B2, khinzir dan lain-lain.
“Jika menemukan istilah-istilah tersebut di atas, konsumen tak perlu ragu untuk meninggalkan produk tersebut dan menggantinya dengan produk sejenis yang telah bersertifikat halal,” himbau juru bicara LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI), Farid MS. [GA/dbs]

Penyaliban Firaun dan Yesus, Fakta atau Fiktif?


Penyaliban Firaun dan Yesus, Fakta atau Fiktif?
Situs misionaris Kristen yang satu ini benar-benar licik. Nama domainnya islami dengan membawa nama kitab suci Al-Qur’an, tapi seluruh artikelnya menyerang keabsahan Al-Qur’an.

Salah satu tulisan menohok Al-Qur’an yang dirilis dalam situs www.#####alquran.com adalah artikel berjudul “Kontradiksi Al-Quran dengan Sejarah dan Ilmu Pengetahuan.” Dalam pengantar artikel yang tidak mencantumkan nama penulisnya itu terang-terangan ingin menggugat keyakinan umat Islam bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci firman Allah.

Sang misionaris majhul tersebut membanding-bandingkan kisah penyaliban dalam Al-Qur’an dan Bibel, yang disimpulkan bahwa kisah penyaliban dalam Al-Qur’an itu fiktif:

“Pernahkah orang Mesir disalibkan? Al-Quran bukan hanya kelihatan salah pada penciptaan alam semesta. Tetapi juga sejarah. Dalam Qs 7:124, 12:41, dan 26:49 dikatakan bahwa pada masa Firaun, yaitu sekitar tahun 1450-1200 BC, telah terjadi penyaliban di Mesir. Faktanya, menurut catatan sejarah, penyaliban bukan bentuk penghukuman bagi seseorang di masa itu. Penyaliban dimulai berabad-abad kemudian oleh pemerintah Roma, bukan oleh Firaun di Mesir.”

Tuduhan misionaris picisan itu tidak berdasar sama sekali, hanya didominasi oleh sentimen anti Islam, ditambah dengan fanatisme buta yang overdosis terhadap doktrin Bibel.

Ayat Al-Qur’an yang dituduh fiktif oleh misionaris Kristen adalah sebagai berikut:

“Firaun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini). Demi, sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kalian semuanya” (Al-A’raf 123-124).

Ayat ini memberikan pencerahan yang indah kepada umat manusia melalui pendidikan tauhid, teladan perjuangan, dan pesan moral melawan kebatilan.

Al-Qur’an memotret dakwah Nabi Musa dan Harun AS kepada Firaun yang mengklaim dirinya sebagai tuhan (Qs. Al-A’raf 103-141, Thaha 9-82, Asy-Syu’ara’ 10-68, Al-Qashash 1-42, Al-Mukmin 21-46, dll).
Menanggapi seruan Musa dan Harun yang tampil sebagai nabi utusan Allah, Firaun menjawab dengan ejekan: “Apakah ada Tuhan selain aku?” Ketika Musa berhasil membuktikan kebenaran risalah Ilahi dengan hujjah yang jelas dan tak terbantahkan, Firaun menakuti-nakuti Musa dengan ancaman penjara dan siksa. Tapi Musa tak gentar sedikit pun dan berkata, “Bukankah aku telah mendatangkan bukti yang nyata kepadamu?” Firaun menantang lagi, “Apa bukti kehebatanmu?”

Untuk membuktikan kenabiannya, Musa diberi mukjizat oleh Allah SWT. Maka Musa melemparkan tongkat, lalu dengan izin Allah tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. Kemudian Musa memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya, tiba-tiba tangan itu bersinar bagaikan cahaya matahari. Firaun yang sudah ketakutan, malah menuding Musa sebagai tukang sihir. Ia pun memanggil para ahli sihir kerajaan untuk melawan kehebatan Nabi Musa.

Kini Musa berhadapan dengan paranormal kerajaan yang terkenal hebat. Para ahli sihir itu melemparkan tali-temali dan tongkatnya seraya berkata, “Bi’izzati Fir’auna inna lanahnul-ghaalibuun” yang artinya, demi kekuasaan Firaun sungguh kami benar-benar akan menang (Qs Asy-Syu’ara’ 44). Seketika itu pula tali-temali dan tongkat itu berubah seolah-olah hidup menjadi ular yang sangat menakutkan.

Menghadapi serangan ahli sihir itu, atas petunjuk Allah, Musa melemparkan tongkatnya. Tongkat itu pun menjelma menjadi ular besar yang hidup dan memakan seluruh ular buatan para ahli sihir kerajaan.

Sontak, kekalahan telak itu menyadarkan para tukang sihir akan keyakinannya yang batil selama ini. Mereka pun bertaubat, beriman dan bersujud kepada Allah SWT. Dengan tulus mereka berikrar, “Amanna birobbil-‘alamin, robbi Musa wa Harun” (Qs. Al-A’raf 121-122, Asy-Syu’ara’ 47-48).

Firaun makin naik pitam, tidak mau menerima kekalahan ini. Dengan emosi, ia mengancam para tukang sihir dengan hukuman bunuh dan salib (Al-A’raf 123-124, Yusuf 41, Asy-Syu’ara’ 49).

Subhanallah!!! Ancaman ini sama sekali tidak menggetarkan iman para tukang sihir yang sudah bertaubat. Dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah disebutkan bahwa ketika bersujud, Allah menampakkan rumah dan keindahan surga kepada para tukang sihir ini. Sehingga ancaman Firaun itu tidak ada efeknya sedikit pun bagi mereka. Mereka pun mati syahid disiksa dan disalib oleh Firaun.

Bagi para misionaris Kristen, ayat-ayat mulia dalam Al-Qur’an dijadikan sasaran tembak untuk melumat otentisitas Al-Qur’an. Ayat ini dituding mengalami kesalahan sejarah, karena penyaliban belum dikenal oleh orang-orang Mesir pada masa Firaun (tahun 1450-1200 SM). Menurut mereka, penyaliban baru dipraktikkan oleh bangsa Romawi berabad-abad setelah Firaun meninggal di Mesir.

Tingginya kemakmuran dan majunya peradaban bangsa Mesir membuat Firaun menjadi penguasa diktator, bahkan memproklamirkan diri sebagai tuhan yang harus disembah. Firaun tak segan-segan menghukum salib bagi rakyat yang menentangnya. Ia pun menyiapkan banyak salib (Al-Fajr 10).

Keberadaan Salib pada zaman Firaun, Musa dan Harun itu tidak bertentangan dengan sejarah yang mencatat bahwa Salib sudah dikenal pada zaman Mesir Kuno. Mula-mula masyarakat Mesir kuno mengenal salib di dalam bentuk Tau yang kemudian digabungkan dengan lingkaran di atasnya. Salib di Mesir ini dikenal dengan nama ”Crux Ansata” atau biasa disebut ”Key of the Nile.”

Sir J. Gardner Wilkinson dalam bukunya ”Manners and Customs of the Ancient Egyptians” menuliskan bahwa pada pemerintahan ini dikenal dengan Amenophis IV dan istrinya, keduanya telah menerima salib dari Dewa Matahari, kemudian mereka menggabungkan matahari dengan salib menjadi suatu simbol aneh yang disembah pada waktu itu. Jadi pada masa sebelum kekristenan eksis, salib bagi masyarakat Mesir kuno dihubungkan dengan simbol “Kehidupan” dan “Pemberi hidup” yang menunjuk kepada penyembahan Dewa Matahari.

Teolog Katolik, Herbert Haag dalam bukunya Biblisches Wörterbuch (Kamus Alkitab, hlm. 392) mengakui bahwa Salib sudah ada sejak dalam kebudayaan yang tertua Babylon, Meksiko, Mesir, dan Jerman. Di Mesir, salib dikenal dengan salib engsel, sedangkan di Jerman dikenal dengan salib roda matahari.

Jika salib sudah dikenal dalam kebudayaan tertua di Mesir, maka kisah Al-Qur’an tentang hukuman salib yang dilakukan Firaun di Mesir adalah fakta yang tidak perlu dipersoalkan. Hanya misionaris buta literatur saja yang ngeyel menolak kisah terindah dalam Al-Qur’an.

Penyaliban Yesus dalam Bibel Jelas Fiktif!!!

Setelah menuduh kisah Al-Qur’an fiktif, situs misionaris itu beralih menyanjung Alkitab (Bibel). Ia mengklaim kisah penyaliban Yesus dalam Bibel sebagai fakta sejarah:

“Penyaliban Isa Al-Masih adalah fakta sejarah. Alkitab, yang sebagiannya Muhammad mengerti, menegaskan bahwa menurut sejarah Isa Al-Masih wafat. Beberapa sarjana percaya, tulisan paling kuno tentang kematian Isa Al-Masih ditulis antara tiga sampai lima tahun sesudah penyaliban-Nya. Bahkan salah satu ayat Al-Quran mengatakan: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Al-Masih), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku (Isa Al-Masih) meninggal dan pada hari aku (Isa Al-Masih) dibangkitkan hidup kembali” (Qs Maryam 33).

Klaim ini sangat menggelikan. Penyaliban Yesus diklaim sesuai sejarah tapi tak satupun argumen yang dikemukakan, bahkan ayat Bibel pun sama sekali tidak dikutip.

Lucunya, untuk mendukung klaim tersebut, ia mengutip Al-Qur’an surat Maryam ayat 33. Padahal ayat ini sama sekali tidak berbicara mengenai penyaliban, mendukung ayat Al-Qur’an lainnya bahwa Nabi Isa tidak pernah disalib maupun dibunuh (Qs An-Nisa’ 157).

Terlalu dipaksakan kalau doktrin penyaliban Yesus diklaim sebagai fakta sejarah. Jangankan sejarah, ayat-ayat Bibel yang bercerita tentang penyaliban Yesus saja masih simpang siur dan kontradiktif.

Misalnya, Injil Markus menyebutkan bahwa Yesus disalib pada jam sembilan (Markus 15:25), sementara Injil Yohanes menyatakan bahwa pada jam dua belas baru diadakan persiapan Paskah (Yohanes 19:14). Jadi, menurut Yohanes, jam sembilan Yesus belum disalib.

Selain kontradiktif, pemakaian kata “jam” pada ayat tersebut (jam sembilan dan jam duabelas) patut dipertanyakan. Karena pada zaman Yesus belum ada jam merek apapun. Penyaliban Yesus tidak hanya fiktif, tapi juga mengada-ada.

Masya Allah..!! Usai Ikuti Buka Puasa Bersama, 220 Warga Filipina Masuk Islam

Masya Allah..!! Usai Ikuti Buka Puasa Bersama, 220 Warga Filipina Masuk Islam

Hidayah Islam kembali didapatkan oleh orang-orang Kristen pada bulan suci Ramadhan 1436 H ini. Sekitar 220 warga Filipina memilih masuk Islam setelah ikut berbuka puasa dengan umat Islam di Arab Saudi. Para pekerja di sebuah perusahaan lokal ini mengaku menganggumi ajaran Islam.
“Mereka telah berbuka puasa dengan kami selama beberapa hari dan mereka semua sepakat untuk memeluk agama Islam,” kata Direktur Kantor Bimbingan Islam, Sheikh Salim Al Maabadi seperti dilansir Republika pada Ahad (28/6/2015).

Seperti diberitakan Panjimas.com sebelumnya, bulan Ramadhan 1436 H menjadi momentum hidayah bagi sekitar 20 orang pegawai ekspatriat di King Abdul Aziz University Hospital, Riyadh, Saudi Arabia. (Baca: Dapat Hidayah Ramadhan, 20 Orang Ekspatriat di Riyadh Menjadi Muallaf)

Usai shalat tarawih pada Selasa (23/6/2015) lalu, para ekspatriat yang kebanyakan berasal dari Filipina ini memilih menjadi muallaf dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka didampingi seorang penceramah agama dari Filipina, Gaddy Albani saat menjalani proses menjadi seorang Muslim tersebut.

Imam masjid agung di distrik Dubhat, Malaz, Sheikh Turky Qelaiway mengumumkan berita itu kepada para jama’ah setelah shalat tarawih. Tak ayal, para jama’ah masjid memeluk para ekspatriat tadi, sementara yang lain mengambil gambar dan merekam proses tersebut.

“Ini adalah waktu untuk bersuka cita bagi semua jamaah yang bersama kami malam ini. Saya bangga padamu dan semua orang senang untuk menyambut Anda sebagai saudara baru dalam Islam,” kata Qelaiway pada Arabnews, pada Kamis (25/6/2015). [Muhajir]

Bagaimana Sebenarnya Islam Mengajarkan Bersikap Kepada Agama Lain?

Jika kepada non-muslim saja 
diajarkan untuk tak berkonflik,
kenapa kepada sesama muslim selalu
mempermasalahkan pendapat yang
berbeda?
Sebagian pemikiran yang sudah menyebar mengenai pandangan Islam kepada non-muslim adalah bahwasanya setiap yang bukan Islam pantas dimusuhi, bahkan jika mungkin diberangus saja. Sebab, dengan dibumbui dalil Alquran, darah mereka halal. Namun benarkah Islam mengajarkan demikian?

Di dalam ajaran Islam, non-muslim digolongkan menjadi empat kategori. Tiga di antaranya tidak dibenarkan untuk diperangi dan layak untuk diajak hidup berdampingan serta berinteraksi sosial. Dikutip brilio.net dari buku Dari Jilboobs Hingga Nikah Beda Agama yang ditulis Alawy Ali Imron, Rabu (1/7), empat kategori tersebut adalah:

Pertama, dzimmi. Yaitu non-muslim yang mendapat jaminan keamanan serta mematuhi pemerintah dengan membayar jizyah, sejenis pajak atau bea izin tinggal. Pemerintahan yang dimaksud adalah jika dengan model pemerintahan Islam. Jika bukan model pemerintahan Islam maka tidak ada jizyah.

Kedua, musta'man. Yaitu nonmuslim yang meminta perlindungan secara khusus kepada pemerintah. Dengan membayar kompensasi tertentu maka pemerintah yang berbasis Islam wajib memberi perlindungan.

Ketiga, mu'ahad. Yaitu non-muslim yang mengadakan perjanjian damai kepada umat muslim baik tertulis atau tidak. Dimungkinkan mayoritas non-muslim di Indonesia adalah kategori ini.

Keempat, harbi. Yaitu yang dibolehkan melakukan perlawanan terhadapnya. Umat muslim diperkenankan melakukan serangan secara berkelompok yang telah dibenarkan oleh Hukumah Islamiyah, bukan secara personal. Namun lebih diutamakan agar tidak melakukan penyerangan. Diperkenankan bergerak melakukan perlawanan ketika sudah diserang.

Maka, melakukan permusuhan kepada semua non-muslim secara pukul rata tentu merupakan sikap keliru. Perlawanan hanya ditujukan kepada pihak-pihak yang secara jelas memusuhi Islam, tidak boleh digeneralisir. Semisal dalam suatu wilayah, hanya perangkat pemerintahannya yang menampakkan penyudutan terhadap Islam, maka penduduknya tidak boleh diikutsertakan.

Alawy menambahkan, jika kepada non-muslim saja diajarkan untuk tak berkonflik, apalagi kepada sesama muslim meski berbeda pendapat.

"Saya yakin sekali, bahwa sebagian orang Islam yang bersikap ketus kepada setiap non-muslim, atau bahkan membunuhnya tanpa sebab adalah sekelompok orang yang tidak memahami fiqih dengan baik dan tidak tahu maqosidut-tasyri', tetapi selalu mengaku paling berislam sendiri," tulis Alawy.
Back To Top